Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Oktober 2009

Inikah Yang Menyebabkan Indonesia Korupsi?

Iseng gw surfing eh nemu gambar ini di blog Anang kalo gag salah. Yaph asas kekeluargaan, semua serba kekeluargaan. Perekonomian yang kekeluargaan, hukum, politik, kerja sama juga yang kekeluargaan. Jadi yah akhirnya karena menganggap keluarga tak ada sangsi yang jelas

Kamis, 08 Oktober 2009

Belanda Tidak pernah Menjajah Indonesia Selama 350 Tahun

Melalui sejumlah fakta dan analisis sejarah, Nina Herlina L. sejarawan dari Universitas Padjajaran Bandung menjelaskan ketidakbenaran sejarah tentang penjajahan Belanda di Indonesia. Ucapan Bung Karno “Indonesia dijajah selama 350 tahun” menurutnya hanya dimaksudkan untuk membangkitkan semangat patriotisme di masa perang kemerdekaan. Lalu kapan tepatnya Belanda mulai menjajah?

***Oleh Nina Herlina L***.


“WIJ sluiten nu.Vaarwel, tot betere tijden. Leve de Koningin!” (Kami akhiri sekarang. Selamat berpisah sampai waktu yang lebih baik. Hidup Sang Ratu!). Demikian NIROM (Nederlandsch Indische Radio Omroep Maatschappij/Maskapai Radio Siaran Hindia Belanda) mengakhiri siarannya pada tanggal 8 Maret 1942.
Enam puluh enam tahun yang lalu, tepatnya 8 Maret 1942, penjajahan Belanda di Indonesia berakhir sudah. Rupanya “waktu yang lebih baik” dalam siaran terakhir NIROM itu tidak pernah ada karena sejak 8 Maret 1942 Indonesia diduduki Pemerintahan Militer Jepang hingga tahun 1945. Indonesia menjadi negara merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945.


Masyarakat awam selalu mengatakan bahwa kita dijajah Belanda selama 350 tahun. Benarkah demikian? Untuk ke sekian kalinya, harus ditegaskan bahwa ?Tidak benar kita dijajah Belanda selama 350 tahun?. Masyarakat memang tidak bisa disalahkan karena anggapan itu sudah tertulis dalam buku-buku pelajaran sejarah sejak Indonesia merdeka! Tidak bisa disalahkan juga ketika Bung Karno mengatakan, ?Indonesia dijajah selama 350 tahun!? Sebab, ucapan ini hanya untuk membangkitkan semangat patriotisme dan nasionalisme rakyat Indonesia saat perang kemerdekaan (1946-1949) menghadapi Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia.

Bung Karno menyatakan hal ini agaknya juga untuk meng-counter ucapan para penguasa Hindia Belanda. De Jong, misalnya, dengan arogan berkata, ?Belanda sudah berkuasa 300 tahun dan masih akan berkuasa 300 tahun lagi!? Lalu Colijn yang dengan pongah berkoar, “Belanda tak akan tergoyahkan karena Belanda ini sekuat (Gunung) Mount Blanc di Alpen.”
Tulisan ini akan menjelaskan bahwa anggapan yang sudah menjadi mitos itu, tidak benar. Mari kita lihat sejak kapan kita (Indonesia) dijajah dan kapan pula penjajahan itu berakhir.


Kedatangan Penjajah

Pada 1511, Portugis berhasil menguasai Malaka, sebuah emporium yang menghubungkan perdagangan dari India dan Cina. Dengan menguasai Malaka, Portugis berhasil mengendalikan perdagangan rempah-rempah seperti lada, cengkeh, pala, dan fuli dari Sumatra dan Maluku. Pada 1512, D`Albuquerque mengirim sebuah armada ke tempat asal rempah-rempah di Maluku. Dalam perjalanan itu mereka singgah di Banten, Sundakalapa, dan Cirebon. Dengan menggunakan nakhoda-nakhoda Jawa, armada itu tiba di Kepulauan Banda, terus menuju Maluku Utara, akhirnya tiba juga di Ternate.

Di Ternate, Portugis mendapat izin untuk membangun sebuah benteng. Portugis memantapkan kedudukannya di Maluku dan sempat meluaskan pendudukannya ke Timor. Dengan semboyan “gospel, glory, and gold” mereka juga sempat menyebarkan agama Katolik, terutama di Maluku. Waktu itu, Nusantara hanyalah merupakan salah satu mata rantai saja dalam dunia perdagangan milik Portugis yang menguasai separuh dunia ini (separuh lagi milik Spanyol) sejak dunia ini dibagi dua dalam Perjanjian Tordesillas tahun 1493. Portugis menguasai wilayah yang bukan Kristen dari 100 mil di sebelah barat Semenanjung Verde, terus ke timur melalui Goa di India, hingga kepulauan rempah-rempah Maluku. Sisanya (kecuali Eropa) dikuasai Spanyol
.
Sejak dasawarsa terakhir abad ke-16, para pelaut Belanda berhasil menemukan jalan dagang ke Asia yang dirahasiakan Portugis sejak awal abad ke-16. Pada 1595, sebuah perusahaan dagang Belanda yang bernama Compagnie van Verre membiayai sebuah ekspedisi dagang ke Nusantara. Ekpedisi yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman ini membawa empat buah kapal. Setelah menempuh perjalanan selama empat belas bulan, pada 22 Juni 1596, mereka berhasil mendarat di Pelabuhan Banten. Inilah titik awal kedatangan Belanda di Nusantara.

Kunjungan pertama tidak berhasil karena sikap arogan Cornelis de Houtman. Pada 1 Mei 1598, Perseroan Amsterdam mengirim kembali rombongan perdagangannya ke Nusantara di bawah pimpinan Jacob van Neck, van Heemskerck, dan van Waerwijck. Dengan belajar dari kesalahan Cornelis de Houtman, mereka berhasil mengambil simpati penguasa Banten sehingga para pedagang Belanda ini diperbolehkan berdagang di Pelabuhan Banten. Ketiga kapal kembali ke negerinya dengan muatan penuh. Sementara itu, kapal lainnya meneruskan perjalanannya sampai ke Maluku untuk mencari cengkih dan pala.

Dengan semakin ramainya perdagangan di perairan Nusantara, persaingan dan konflik pun meningkat. Baik di antara sesama pedagang Belanda maupun dengan pedagang asing lainnya seperti Portugis dan Inggris. Untuk mengatasi persaingan yang tidak sehat ini, pada 1602 di Amsterdam dibentuklah suatu wadah yang merupakan perserikatan dari berbagai perusahaan dagang yang tersebar di enam kota di Belanda. Wadah itu diberi nama “Verenigde Oost-Indische Compagnie” (Serikat Perusahaan Hindia Timur) disingkat VOC.

Pemerintah Kerajaan Belanda (dalam hal ini Staaten General), memberi “izin dagang” (octrooi) pada VOC. VOC boleh menjalankan perang dan diplomasi di Asia, bahkan merebut wilayah-wilayah yang dianggap strategis bagi perdagangannya. VOC juga boleh memiliki angkatan perang sendiri dan mata uang sendiri. Dikatakan juga bahwa octrooi itu selalu bisa diperpanjang setiap 21 tahun. Sejak itu hanya armada-armada dagang VOC yang boleh berdagang di Asia (monopoli perdagangan).

Dengan kekuasaan yang besar ini, VOC akhirnya menjadi “negara dalam Negara” dan dengan itu pula mulai dari masa Jan Pieterszoon Coen (1619-1623, 1627-1629) sampai masa Cornelis Speelman (1681-1684) menjadi Gubernur Jenderal VOC, kota-kota dagang di Nusantara yang menjadi pusat perdagangan rempah-rempah berhasil dikuasai VOC. Batavia (sekarang Jakarta) menjadi pusat kedudukan VOC sejak 1619, Ambon dikuasai tahun 1630. Beberapa kota pelabuhan di Pulau Jawa baru diserahkan Mataram kepada VOC antara tahun 1677-1705. Sementara di daerah pedalaman, raja-raja dan para bupati masih tetap berkuasa penuh. Peranan mereka hanya sebatas menjadi “tusschen personen” (perantara) penguasa VOC dan rakyat.

“Power tends to Corrupt.” Demikian kata Lord Acton, sejarawan Inggris terkemuka. VOC memiliki kekuasaan yang besar dan lama, VOC pun mengalami apa yang dikatakan Lord Acton. Pada 1799, secara resmi VOC dibubarkan akibat korupsi yang parah mulai dari “cacing cau” hingga Gubernur Jenderalnya. Pemerintah Belanda lalu menyita semua aset VOC untuk membayar utang-utangnya, termasuk wilayah-wilayah yang dikuasainya di Indonesia, seperti kota-kota pelabuhan penting dan pantai utara Pulau Jawa.

Selama satu abad kemudian, Hindia Belanda berusaha melakukan konsolidasi kekuasaannya mulai dari Sabang-Merauke. Namun, tentu saja tidak mudah. Berbagai perang melawan kolonialisme muncul seperti Perang Padri (1821-1837), Perang Diponegoro (1825-1830), Perang Aceh (1873-1907), Perang di Jambi (1833-1907), Perang di Lampung (1834-1856), Perang di Lombok (1843-1894), Perang Puputan di Bali (1846-1908), Perang di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (1852-1908), Perlawanan di Sumatra Utara (1872-1904), Perang di Tanah Batak (1878-1907), dan Perang Aceh (1873-1912).

Peperangan di seluruh Nusantara itu baru berakhir dengan berakhirnya Perang Aceh. Jadi baru setelah tahun 1912, Belanda benar-benar menjajah seluruh wilayah yang kemudian menjadi wilayah Republik Indonesia (kecuali Timor Timur). Jangan lupa pula bahwa antara 1811-1816, Pemerintah Hindia Belanda sempat diselingi oleh pemerintahan interregnum (pengantara) Inggris di bawah Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles.

Saat-saat Akhir

Pada 7 Desember 1941, Angkatan Udara Jepang di bawah pimpinan Laksamana Nagano melancarkan serangan mendadak ke pangkalan angkatan laut AS di Pearl Harbour, Hawaii. Akibat serangan itu kekuatan angkatan laut AS di Timur Jauh lumpuh. AS pun menyatakan perang terhadap Jepang. Demikian pula Belanda sebagai salah satu sekutu AS menyatakan perang terhadap Jepang.

Pada 18 Desember 1941, pukul 06.30, Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer melalui radio menyatakan perang terhadap Jepang. Pernyataan perang tersebut kemudian direspons oleh Jepang dengan menyatakan perang juga terhadap Pemerintah Hindia Belanda pada 1 Januari 1942. Setelah armada Sekutu dapat dihancurkan dalam pertempuran di Laut Jawa maka dengan mudah pasukan Jepang mendarat di beberapa tempat di pantai utara Pulau Jawa.

Pemerintah Kolonial Hindia Belanda memusatkan pertahanannya di sekitar pegunungan Bandung. Pada waktu itu kekuatan militer Hindia Belanda di Jawa berjumlah empat Divisi atau sekitar 40.000 prajurit termasuk pasukan Inggris, AS, dan Australia. Pasukan itu di bawah komando pasukan sekutu yang markas besarnya di Lembang dan Panglimanya ialah Letjen H. Ter Poorten dari Tentara Hindia Belanda (KNIL). Selanjutnya kedudukan Pemerintah Kolonial Belanda dipindahkan dari Batavia (Jakarta) ke Kota Bandung.

Pasukan Jepang yang mendarat di Eretan Wetan adalah Detasemen Syoji. Pada saat itu satu detasemen pimpinannya berkekuatan 5.000 prajurit yang khusus ditugasi untuk merebut Kota Bandung. Satu batalion bergerak ke arah selatan melalui Anjatan, satu batalion ke arah barat melalui Pamanukan, dan sebagian pasukan melalui Sungai Cipunagara. Batalion Wakamatsu dapat merebut lapangan terbang Kalijati tanpa perlawanan berarti dari Angkatan Udara Inggris yang menjaga lapangan terbang itu.
Pada 5 Maret 1942, seluruh detasemen tentara Jepang yang ada di Kalijati disiapkan untuk menggempur pertahanan Belanda di Ciater dan selanjutnya menyerbu Bandung. Akibat serbuan itu tentara Belanda dari Ciater mundur ke Lembang yang dijadikan benteng terakhir pertahanan Belanda.

Pada 6 Maret 1942, Panglima Angkatan Darat Belanda Letnan Jenderal Ter Poorten memerintahkan Komandan Pertahanan Bandung Mayor Jenderal J. J. Pesman agar tidak mengadakan pertempuran di Bandung dan menyarankan mengadakan perundingan mengenai penyerahan pasukan yang berada di garis Utara-Selatan yang melalui Purwakarta dan Sumedang. Menurut Jenderal Ter Poorten, Bandung pada saat itu padat oleh penduduk sipil, wanita, dan anak-anak, dan apabila terjadi pertempuran maka banyak dari mereka yang akan jadi korban.

Pada 7 Maret 1942 sore hari, Lembang jatuh ke tangan tentara Jepang. Mayjen J. J. Pesman mengirim utusan ke Lembang untuk merundingkan masalah itu. Kolonel Syoji menjawab bahwa untuk perundingan itu harus dilakukan di Gedung Isola (sekarang gedung Rektorat UPI Bandung). Sementara itu, Jenderal Imamura yang telah dihubungi Kolonel Syoji segera memerintahkan kepada bawahannya agar mengadakan kontak dengan Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer untuk mengadakan perundingan di Subang pada 8 Maret 1942 pagi. Akan tetapi, Letnan Jenderal Ter Poorten meminta Gubernur Jenderal agar usul itu ditolak.
Jenderal Imamura mengeluarkan peringatan bahwa “Bila pada 8 Maret 1942 pukul 10.00 pagi para pembesar Belanda belum juga berangkat ke Kalijati maka Bandung akan dibom sampai hancur.” Sebagai bukti bahwa ancaman itu bukan sekadar gertakan, di atas Kota Bandung tampak pesawat-pesawat pembom Jepang dalam jumlah besar siap untuk melaksanakan tugasnya.

Melihat kenyataan itu, Letnan Jenderal Ter Poorten dan Gubernur Jenderal Tjarda beserta para pembesar tentara Belanda lainnya berangkat ke Kalijati sesuai dengan tanggal dan waktu yang telah ditentukan. Pada mulanya Jenderal Ter Poorten hanya bersedia menyampaikan kapitulasi Bandung. Namun, karena Jenderal Imamura menolak usulan itu dan akan melaksanakan ultimatumnya. Akhirnya, Letnan Jenderal Ter Poorten dan Gubernur Jenderal Tjarda menyerahkan seluruh wilayah Hindia Belanda kepada Jepang tanpa syarat. Keesokan harinya, 9 Maret 1942 pukul 08.00 dalam siaran radio Bandung, terdengar perintah Jenderal Ter Poorten kepada seluruh pasukannya untuk menghentikan segala peperangan dan melakukan kapitulasi tanpa syarat.
Itulah akhir kisah penjajahan Belanda. Setelah itu Jepang pun menduduki Indonesia hingga akhirnya merdeka 17 Agustus 1945. Jepang hanya berkuasa tiga tahun lima bulan delapan hari.

Analisis

Berdasarkan uraian di atas, kita bisa menghitung berapa lama sesungguhnya Indonesia dijajah Belanda. Kalau dihitung dari 1596 sampai 1942, jumlahnya 346 tahun. Namun, tahun 1596 itu Belanda baru datang sebagai pedagang. Itu pun gagal mendapat izin dagang. Tahun 1613-1645, Sultan Agung dari Mataram, adalah raja besar yang menguasai seluruh Jawa, kecuali Banten, Batavia, dan Blambangan. Jadi, tidak bisa dikatakan Belanda sudah menjajah Pulau Jawa (yang menjadi bagian Indonesia kemudian).

Selama seratus tahun dari mulai terbentuknya Hindia Belanda pascakeruntuhan VOC (dengan dipotong masa penjajahan Inggris selama 5 tahun), Belanda harus berusaha keras menaklukkan berbagai wilayah di Nusantara hingga terciptanya Pax Neerlandica. Namun, demikian hingga akhir abad ke-19, beberapa kerajaan di Bali, dan awal abad ke-20, beberapa kerajaan di Nusa Tenggara Timur, masih mengadakan perjanjian sebagai negara bebas (secara hukum internasional) dengan Belanda. Jangan pula dilupakan hingga sekarang Aceh menolak disamakan dengan Jawa karena hingga 1912 Aceh adalah kerajaan yang masih berdaulat. Orang Aceh hanya mau mengakui mereka dijajah 33 tahun saja.

Kesimpulannya, tidak benar kita dijajah Belanda selama 350 tahun. Yang benar adalah, Belanda memerlukan waktu 300 tahun untuk menguasai seluruh Nusantara.

Dikutip secara lengkap dari harian Pikiran Rakyat, 8 Maret 2008.
Nina Herlina L. adalah Guru Besar Ilmu Sejarah Unpad/Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat/Ketua Pusat Kebudayaan Sunda Fakultas Sastra Unpad.
__________________

Selasa, 06 Oktober 2009

Daftar Gaji PNS

Pegawai Golongan Ia dengan masa kerja 0 tahun sebesar Rp 1.040.000
Pegawai Golongan Ia dengan masa kerja 4 tahun sebesar Rp 1.091.700
Pegawai Golongan Ia dengan masa kerja 16 tahun sebesar Rp 1.262.700

Pegawai Golongan II a dengan masa kerja 0 tahun sebesar Rp 1.320.300
Pegawai Golongan II b dengan masa kerja 5 tahun sebesar Rp 1.462.300
Pegawai Golongan II b dengan masa kerja 15 tahun sebesar Rp 1.650.800

Pegawai Golongan II c dengan masa kerja 3 tahun sebesar Rp 1.487.600
Pegawai Golongan II c dengan masa kerja 7 tahun sebesar Rp 1.561.600
Pegawai Golongan II c dengan masa kerja 15 tahun sebesar Rp 1.720.700

Pegawai Golongan II d dengan masa kerja 3 tahun sebesar Rp 1.550.600
Pegawai Golongan II d dengan masa kerja 7 tahun sebesar Rp 1.627.600
Pegawai Golongan II d dengan masa kerja 15 tahun sebesar Rp Rp 1.793.400

Pegawai Golongan III a dengan masa kerja 0 tahun sebesar Rp 1.655.800
Pegawai Golongan III a dengan masa kerja 4 tahun sebesar Rp 1.738.100
Pegawai Golongan III a dengan masa kerja 10 tahun sebesar Rp 1.869.300

Pegawai Golongan IV a dengan masa kerja 0 tahun sebesar Rp 1.954.300
Pegawai Golongan IV a dengan masa kerja 4 tahun sebesar Rp 2.051.400
Pegawai Golongan IV a dengan masa kerja 10 tahun sebear Rp 2.206.200
Pegawai Golongan IV a dengan masa kerja 32 tahun sebesar Rp 2.880.800

Golongan IV d dengan masa kerja 0 tahun sebesar Rp 2.212.900
Golongan IV d dengan masa kerja 4 tahun sebesar Rp 2.322.900
Golongan IV d dengan masa kerja 10 tahun sebesar Rp 2.498.200
Golongan IV d dengan masa kerja 32 tahun sebesar Rp3.262.000

Golongan IV e dengan masa kerja 0 tahun sebesar Rp 2.306.500
Golongan IV e dengan masa kerja 4 tahun sebesar Rp 2.421.200
Golongan IV e dengan masa kerja 10 tahun sebesar Rp 2.603.900
Golongan IV e dengan masa kerja 32 tahun sebesar Rp 3.400.000

Sumber = "http://artikelindonesia.com/daftar-gaji-pns-pegawai-negeri-sipil.html"

Kenapa dengan gaji yang segitu dibela-belain mau bayar mpe 60Jt agar bisa jadi PNS???
mungkin ini alasannya :

1. Jam kerja bebas, mau belanja ke pasar dulu okeee, pulang sebelum waktunya okeeee, di kantor cuman ngobrol ma maenan ping-pong okeee juga tuuuh. Ngerjain tugas dan kewajiban??? Ah ntar ajah kalo akhir bulan.

2. Gag bakalan dipecat kalo gag berbuat ulah kayak selingkuh. Kalo salah2 dalam masalah kerjaan mah nyanteeee kaleeeee.

3. Banyak sampingan, palagi kalo pemerintah ngadain program untuk rakyat miskin wuaaaah paling seneng tuuuh. Lumayan dapet duit tambahan, itung2 balik modal yang 60Jt.

4. Kerjanya super nyante, gag perlu lah mikir. Kalo PNS itu beneran dipake otaknya buwat mikir, sudah pasti banyak daerah2 di Indonesia maju. Liat ajah jumlah PNS yang sebegejibun.

5. Cepet kaya kali yeee, masak gaji segeto rumahnya 2, punya mobil, motor na mpe gag ke itung, dalam jangka waktu yang relatif singkat lah. Duit darimana yah??? Mungkin ini bisa jadi titik terang :

Angka kemiskinan pada kurun waktu 2005-2008 yang hanya berkurang 140 ribu jiwa, yaitu dari 35,1 juta menjadi 34,95 juta. Padahal pemerintah punya dana cukup besar, seperti PNPM dan BLT.
Artinya program kemiskinan yang sekarang itu teralu boros. Coba dana Rp 70 triliun dibagi 140 ribu orang. Ini tidak efektif dalam pengentasan kemiskinan. Dulu tahun 2004, berkurang 2,2 juta orang hanya dengan anggaran Rp 14 triliun per tahun.

Senin, 05 Oktober 2009

Biaya Telepon Gubernur

http://kerzt.files.wordpress.com/2009/02/telpon.gif?w=300&h=167
Fasilitas Gubernur Dan akil Gubernur

Gileeee… biaya nelpon gubernur dan wakil gubernur = 3,7M ok, kita hitung2an…


ASUMSi aja… 1 Menit Rp. 2000

Maka 3,7 M itu bisa buat nelpon selama 1,85 JUTA MENIT

Ata sama dengan 30 Ribu JAM

Atau sama dengan 1250 Hari

Atau sama dengan kira - kira 3,5 Tahun…


JADI kalau mau nelpon, punya JATAH NELPON selama 3,5 TAHUN NON STOP (selama 1 tahun) ck3.. mau nelpon siap pak…OKELAH, kita naikin asumsi nelpon per menit Rp. 4000. Sapa tau mau nelpon ke luar negeri trus, maka masih bisa nelpon selama 1,75 Tahun NON STOP per Tahun..


Jadi mungkin butuh MESIN WAKTU juga untuk menghabiskan jatah Nelponnya…

LANJUT GANNN….

BIAYA BAJU DINAS : Rp. 205 juta

Dengan Asumsi pake JAS setiap harinya, dan asumsi 1 jas = 2 Juta, maka bisa beli 100 buah jas atau sama dengan JAS BARU SETIAP 3 hari.. yah mungkin bisa jadi kelamaan kalau NYUCI…



LANJUTTT

Perjalanan Dinas Luar Daerah : 3 Miliar

Perjalanan Dinas Dalam Daerah : 2 Miliar

Total : 5 Miliar

ASUMSI Tinggal di HOTEL BINTANG LIMA 1 Malam = 3 Juta

Maka bisa buat Tinggal selama 1000 HARI atau sekitar 3 tahun….

JUGA PERLU MESIN WAKTU NIH…

Gileee.. buat habisin anggaran perlu mesin waktu euyyy….


sumber :

http://aneh22.blogspot.com/2009/06/biaya-telpon-gubernur-dan-wagub-jatim.html

Kanibalisme

Suku Fore adalah suku yang tinggal di pedalaman Papua Nugini di mana kebudayaan msh sangat sederhana.Mayoritas suku Fore tewas karena penyakit kuru, sejenis penyakit sapi gila yang terdapat pada manusia atau populer dengan istilah vCJD. Para peneliti mengatakan kuru menyebar seiring dengan maraknya pesta pemakaman kanibalistik di mana perempuan dan anak-anak yang kehilangan anggota keluarga memakan daging kerabat yang mati tersebut.


Ketika tim MRC's Prion Unit University College London baru-baru ini kembali mengunjungi suku tersebut, mereka mengambil sample darah dari 30 perempuan berusia di atas 50 tahun yang tidak pernah terkena kuru meskipun menghadiri sejumlah pesta pemakaman kanibalistik.Mereka menemukan bahwa 23 dari 30 perempuan tersebut mewarisi kombinasi gen "prion" (gen dari sejenis penyakit sapi gila yang terdapat pada manusia) dari orang tuanya, kombinasi "heterozygous" methionine/valine (MV).


Peneliti dari Prion Unit, Simon Mead dan John Collinge, dalam studi yang dipublikasikan jurnal Science edisi terbaru, mengatakan mayoritas perempuan dan anak-anak yang mati karena kuru mungkin mewarisi satu dari dua kemungkinan kombinasi "homozygous", VV atau MM.


Yang mengejutkan, Mead mengatakan kombinasi MV mendominasi penduduk yang disurvei di seluruh dunia. Uji genetik terhadap lebih dari 2.000 orang dengan latar belakang ras dan suku di seluruh dunia membuktikan hal ini. Ini menunjukkan bahwa sejarah kanibalisme tidak hanya ada pada suku Fore, tapi dalam sejarah umat manusia. Para peneliti menyimpulkan bahwa gen ini berkembang ketika kanibalisme meluas, sebagai perlindungan dari penyakit prion yang bersembunyi dalam daging korban.


Collinge percaya bahwa pernah terjadi epidemi yang mirip dengan di Papua Nugini, tapi dalam skala lebih luas, disebabkan merebaknya kanibalisme di antara manusia purba. "Kami mencoba memahami basis genetik penyakit prion dan mengapa beberapa orang mendapatkan penyakit tersebut lebih lambat dari yang lain. Kami menemukan bukti bahwa seleksi keseimbangan terjadi pada gen protein prion," demikian Collinge.


Cristoph Soligo dari tim asal-usul manusia dari Natural History Museum di London mengatakan prion sangat mungkin berjangkit antar spesies. Ini artinya, tindakan mengonsumsi binatang yang memiliki penyakit prion juga bisa mengarah pada pembangunan gen pelindung ini.


Sementara Jose Ordovas, direktur gizi dan genomik dari Tufts University di Boston mencatat bahwa kaitan antara diet dan gen adalah sangat kuat, apa pun daging yang dimakan oleh nenek moyang kita. Contohnya, ada bukti bahwa beberapa manusia memiliki gen untuk mendeteksi rasa pahit guna menandai daging yang telah busuk, sementara manusia lain secara genetik bisa menandai makanan yang yang berlemak.



Meskipun beberapa antropolog percaya bahwa kanibalisme manusia belum terbukti, sejumlah temuan justu menunjukkan hal sebaliknya. Beberapa di antaranya adalah penemuan fosil gigi manusia purba yang terselip tulang manusia di dalamnya serta fosil tinja manusia purba yang memiliki kandungan protein manusia.


Mungkinkah ada kanibal yg tinggal di sekitar kita ? menyamar jd orang biasa... hiiiii...



beberapa contoh peristiwa kanibalisme plg terkenal di dunia:




1.Stella Maris College Rugby Team,Uruguay
Pada tanggal 13 Oktober 1972 tim rugby sekolah Stella Maris mengadakan perjalanan dari Montevideo, Uruguay untuk bermain di Santiago Chile.


Akibat cuaca buruk dan kesalahan pilot, pesawat jatuh dipuncak gunung yang tak dikenal di perbatasan Chile dan Argentina.dengan berpenumpang 45 orang,pesawat tersebut tidak ditemukan setelah dilakukan pencarian selama 11 hari,dan semua penumpang pun diperkirakan sudah mati. Mereka tinggal di atas gunung selama dua bulan,dengan tidak adanya makanan diatas gunung,maka mereka memakan teman mereka satu persatu siapa saja yang mati duluan....peristiwa ini di film kan dalam film berjudul "Alive" berdasarkan kisah nyata.






2.Jeffrey Dahmer


Adalah seorang laki-laki biasa kelahiran Amerika pada tanggal 12 Mei 1960, yang konon katanya disebut-sebut sebagai Jack the Ripper ke-2, dan tak hanya itu saja, menurut sumber, Jeffrey juga melakukan kanibalisme pada setiap korban yang dibunuhnya, waaoow apakah sumanto reinkarnasi dari Jeffrey ? Masa kecil Jeffrey layaknya seperti keluarga normal lainnya kecuali si Jeffrey itu sendiri, Jeffrey kecil bersekolah di sd Revere school dan pada saat itu dia mempunyai kebiasaan aneh yaitu memutilasi binatang-binatang yang sudah mati, ya misal anak kucing yang terlindas mobil dan badannya sudah hancur pun masih sempat di potong-potong lagi olehnya.


Kehidupa remaja Jeffrey pun makin menjadi!! dia pemabuk berat dan mempunyai orientasi seks yang menyimpang, Jeffrey homo!!. Dan sejak itu dia mulai kencan dengan sesama jenisnya dan dia pun tidak segan-segan membunuh teman kencannya itu sendiri. Kegilaan Jeffrey pun semakin mantap dan paten pada saat dia tumbuh dewasa, Setiap ada party homo dia selalu datang dan membawa teman-teman kencannya, yang pastinya pria, dan setelah puas dengan hawa nafsunya, di bunuhlah teman kencannya itu dengan cara mutilasi atau mencincang. Semua korban dari kegiatan sadis jeffrey ini adalah laki-laki kisaran umur antara 14-36 tahun. Korban pertamanya, anak laki-laki berumur 14 tahun bernama Konerak Sinthasomphone

foto_Jeffrey:





korban2 jeffrey:





3.Armin Meiwes(kisah paling )
Apa yang terjadi pada malam tanggal 9 Maret 2001, di luar jangkauan pemikiran orang normal. Dua pria dewasa yang usianya terpaut satu tahun itu, naik ke tempat tidur di rumah Meiwes. Brandes menelan 20 pil tidur terlebih dahulu. Dan, dengan persetujuan Brandes, Meiwes memotong penisnya. Potongan penis itu kemudian digoreng dan dinikmati bersama-sama.


Setelah makan malam dengan menu “sangat spesial”, Brandes --yang masih dalam keadaan berdarah-- mandi. Sementara, Meiwes membaca novel Star Trek. Menjelang pagi, Meiwes menyelesaikan tugasnya. Ia membunuh Brandes, dengan menikam lehernya menggunakan pisau dapur. Sebelumnya, Meiwes mencium korbannya terlebih dahulu.Pria kanibal itu memotong-motong tubuh Brandes, kemudian menyimpannya di kulkas. Sementara, tengkorak kepalanya dikubur di pekarangan.Setelah beberapa minggu, Meiwes memasak 20 kilogram daging tadi sedikit demi sedikit menggunakan minyak zaitun, dibumbui bawang putih.


“Dalam setiap gigitan, ingatanku kepadanya (Brandes) semakin kuat,” tuturnya. Dibalik jeruji penjara, Meiwes berceritera kepada detektif polisi, dia menyantap daging korbannya dengan cara sangat istimewa. Ia menggunakan koleksi peralatan makan terbaiknya, ditemani sebotol anggur merah dan nyala lilin.“Rasanya mirip daging babi,” katanya




kanibal lokal !!!!







sumber :
http://www.kaskus.us/

40 Juta Penduduk Indonesia Tidak Punya Toilet

Sekitar 40 juta penduduk di Indonesia masih belum memiliki toilet sehingga mereka buang air besar di sembarang tempat. Demikian diungkapkan Dirjen Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum, Budi Yuwono di Pontianak, Kamis (18/6). "Di Jakarta, ini juga masih terlihat," katanya.

Selain itu, sekitar 20 juta penduduk juga hidup dalam kondisi lingkungan yang kumuh. Pemerintah, lanjut dia, secara bertahap akan menuntaskan permasalahan tersebut.
Untuk masalah sanitasi, pada 2014 ditargetkan tidak ada lagi orang Indonesia yang buang air besar di sembarang tempat. Sedangkan untuk lingkungan yang kumuh, diharapkan tuntas pada tahun 2020.

Budi menambahkan, khusus untuk masalah sanitasi, akan mendapat alokasi yang terpisah pada tahun 2010. "Selama ini, dana alokasi khusus untuk sanitasi digabung dengan air minum. Setiap tahunnya, sekitar Rp1,2 triliun," kata dia. Namun, dana tersebut dalam prakteknya lebih banyak digunakan untuk program peningkatan air minum.

Menurut dia, atas dasar itu pada 2010 sanitasi dan air minum akan ditempatkan pada plot anggaran yang berbeda. Besarannya sekitar Rp800 miliar untuk masing-masing bidang. "Pemerintah Kota Pontianak sebaiknya menangkap peluang ini untuk meningkatkan layanan sosial kepada masyarakat," kata dia.

Sementara pendanaan untuk lingkungan yang kumuh, pemerintah tidak mematok pada angka tertentu. "Tergantung tingkat kedalaman dari kekumuhan itu sendiri," katanya.

Sebarannya umumnya terdapat di kota-kota metropolitan dan kota besar di Indonesia. Perbaikan sanitasi dan lingkungan di Indonesia diharapkan pula dapat menekan penyakit menular yang berbasis lingkungan seperti diare dan demam berdarah.

Misalnya di Pontianak, sekitar 240 hektare areal yang masuk kategori kumuh. Salah satu program pemerintah untuk memperbaiki lingkungan masyarakat melalui Neighborhood Upgrading and Shelter Sector Project (NUSSP) atau proyek penanganan lingkungan permukiman kumuh yang berbasis pada masyarakat miskin.

Sanitasi adalah perilaku disengaja dalam pembudayaan hidup bersih dengan maksud mencegah manusia bersentuhan langsung dengan kotoran dan bahan buangan.

sumber:
http://www.republika.co.id/

65% Perekonomian Indonesia Dikuasai 400 Orang

Indonesia negara dengan penduduk lebih dari 1/4 milyar orang merupakan salah satu dari negara dengan penduduk terbesar di dunia. Alangkah ironisnya bila bangsa sebesar ini roda perekonomiannya hanya dikuasai oleh 400 keluarga pengusaha besar saja.

“Pelaku pasar ini besar-besar, hanya terdiri dari 400 keluarga. Kita ingin ke depan partisipasi masyarakat bisa lebih kuat. Artinya fokus pada kegiatan ekonomi yang tidak mengerucut ke atas,” kata salah satu tim ekonomi Mega-Pro, Iman Sugema di Jakarta, Kamis 11 Juni 2009.

Harus diuapayakan bagaimana rancangan ulang perekonomian nasional ke depan bisa lebih baik lagi. Untuk mewujudkan itu, kata dia, kuncinya penerapan ekonomi kerakyatan. “Karena bicara perubahan tanpa perubahan struktur ekonomi, maka hanya akan berputar dari krisis satu ke krisis berikutnya,” kata dia.

Kondisi ini sekarang dialami Indonesia, dan dampaknya cukup signifikan pada nilai ekspor yang turun sampai 33 persen. Tidak hanya ekspor yang anjlok, modal juga lari ke luar. Di sektor perbankan, dua bank sudah kolaps dan satu bank harus dibailout pemerintah.

Penguasaan Sumber Ekonomi Yang Terpusat Tidak SehatPenguasaan Sumber Ekonomi Yang Terpusat Tidak Sehat

“Ini memang tidak separah krisis 10 tahun lalu. Tapi ini mengingatkan kita, setelah krisis yang dulu, ternyata sektor keuangan dan perbankan kita sangat lemah. Kenapa? Karena tidak ada perubahan yang mendasar, sehingga kita sangat rentan,” kata dia.

Ekonomi kerakyatan, adalah sistem yang memungkinkan semua rakyat Indonesia berdaulat di bidang perekonomian. Dengan sistem ekonomi yang baru, pelaku harus menjadi besar dan mengakar yaitu dengan mempercepat pelaku usaha kecil tanpa harus membatasi pertumbuhan para pengusaha besar. Artinya, yang diinginkan mengandung efek yang tidak negatif terhadap perusahaan yang besar. “Pelaku pengusaha kecil coba kita accelarate,” katanya.

Sebagai contoh Indonesia punya 50 juta ha lahan yang sudah dibabat. Kondisi ini bisa direboisasi. Misalnya, 10 ha diberikan ke pengusaha kecil. “Kalau sekarang kan pengusaha besar yang diutamakan, kami tidak. Pelaku lama tidak kami gusur, tapi bagaimana mengubah ekonomi ini basisnya ke rakyat,” kata dia.

Kedua prinsipnya, struktur ekonomi harus berlandaskan keunggulan kompetitif kita. Selama ini yang terjadi, kita terlalu sibuk menggenjot sektor moneter yang tidak nyambung dengan sektor riil. Jadi bagaimana kedepan agar kita ada basis yang lebih kuat atas keunggulan kompetitif kit, yaitu dalam agroindustri. “Pnelitian di IPB sudah cukup banyak, bagaimana pertanian yang kecil itu lebih efisien dibanding yang skala besar,” katanya.

Iman juga mempertanyakan soal angka kemiskinan pada kurun waktu 2005-2008 yang hanya berkurang 140 ribu jiwa, yaitu dari 35,1 juta menjadi 34,95 juta. Padahal pemerintah punya dana cukup besar, seperti PNPM dan BLT.

“Artinya program kemiskinan yang sekarang itu teralu boros. Coba dana Rp 70 triliun dibagi 140 ribu orang. Ini tidak efektif dalam pengentasan kemiskinan. Dulu tahun 2004, berkurang 2,2 juta orang hanya dengan anggaran Rp 14 triliun per tahun,” kata dia.

sumber:

http://ireztia.wordpress.com/

Presiden Indonesia Kena Tipu

Sejumlah ilmuwan menilai Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) 'tertipu' dalam kasus blue energy (energi biru). Seorang pria asal Nganjuk, Joko Suprapto, mengaku bisa memproduksi minyak mentah dari air. Dari biang minyak itu bisa dihasilkan bahan bakar sekelas minyak tanah hingga avtur.


Presiden SBY yakin itu merupakan sumbangan Indonesia bagi dunia, di tengah makin meroketnya harga minyak. Sementara, negara dibikin pusing tujuh keliling oleh dampak dari kenaikan itu. Karuan saja, sejumlah pihak, termasuk para ilmuwan, menyesalkan informasi yang belum valid bisa diterima oleh SBY. Kabarnya Joko kini dilaporkan ke polisi.


Penipu 'masuk Istana' ternyata punya sejarah yang cukup panjang. Baiklah kita mulai pada tahun 1950-an, pada masa pemerintah Presiden Soekarno. Ada seseorang yang mengaku Raja Kubu -- suku anak dalam di Jambi. Tidak tanggung-tanggung, dia memberi gelar dirinya Raja Idrus dan istrinya Ratu Markonah.


Pasangan 'suami istri' itu, entah bagaimana prosesnya, mendapat pemberitaan pers, termasuk foto-foto keduanya. Maka, sejumlah pejabat negara memberikan penghormatan luar biasa pada 'raja' dan 'ratu' tersebut.


Rupanya ada seorang pejabat yang menghubungi Presiden Soekarno dan kemudian memperkenalkannya. Di Istana, 'suami-istri' yang sebenarnya adalah penarik becak dan pelacur itu sempat diterima sebagai tamu kehormatan di Istana Merdeka. Mereka juga diberi uang, menginap dan makan gratis di hotel-hotel mewah. Termasuk mengunjungi Kraton Yogyakarta dan Surakarta.


Kedok penipuan mereka terbongkar saat berjalan-jalan di Jakarta. Ada seorang tukang becak yang mengenali 'Raja' Idrus, teman seprofesinya di Tegal. Sedang sang 'maharani' juga terbongkar berprofesi sebagai pelacur kelas bawah di kota yang sama. Konon, keduanya bertemu di sebuah warung kopi di Tegal. Kemudian sepakat untuk menjalankan aksi penipuan itu. Keistimewaan Markomah selalu memakai kaca mata hitam baik siang maupun malam. Rupanya sebelah matanya picek.


Pada masa Soeharto, di era 1970-an, juga terjadi penipu kelas kakap. Penipunya bernama Cut Zahara Fona, asal Aceh. Meski tidak tamat SD, dia memiliki ide jenius. Dia, yang selalu mengenakan kain batik, mengklaim bahwa janin yang ada diperutnya bisa berbicara dan mengaji.


Karuan saja, kabar itu menggegerkan masyarakat, apalagi diberitakan secara luas di surat kabar dan majalah. Konon, tiras sebuah harian ibukota terdongkrat naik, karena tiap hari membuat berita tentang 'bayi ajaib' di perut Cut Zahara.


Masyarakat yang banyak berdatangan pun rela untuk nguping di perutnya yang dilapisi kain untuk mendengar 'bayi ajaib' itu berbicara atau mengaji. Bukan hanya rakayat biasa, ada juga pejabat yang meyakininya. Termasuk Wakil Presiden Adam Malik yang mengundang Cut Zahara ke Istana Wapres. Bahkan, Menteri Agama KH Mohamad Dachlan termasuk orang yang meyakininya. Untuk meyakininya, ia menyatakan bahwa Imam Syafi'ie selama tiga tahun berada di kandungan ibunya.


Cut Zahara Fona dan suaminya pernah diperkenalkan oleh Sekdalopbang (Sekretaris Pengendalian Pembangunan) Bardosono kepada Presiden Soeharto dan Ibu Tien Soeharto. Perkenalan ini dilakukan di Bandara Kemayoran setelah keduanya tiba dari lawatan luar negeri. Tapi, rupanya Ibu Tien termasuk orang yang kurang yakin terhadap 'bayi ajaib'-nya Cut Zahara Fona. Apalagi wanita Aceh itu menolak ketika hendak diperiksa di RSCM.


Konon, Ibu Tienlah yang menggeledah dan mendapatkan bahwa bicara dan mengaji itu hanya berasal dari tape recorder kecil yang disisipkan di perut Cut Zahara. Kala itu memang belum banyak perekam suara sekecil milik Cut.


Meskipun kedoknya terbongkar, 'bayi ajaib' tersebut bukan hanya mendapat perhatian masyarakat Indonesia, tapi juga dunia internasional. Hingga ada permintaan dari Pakistan agar Cut dan suaminya berkunjung ke sana. Bahkan, ada yang meramal 'bayi ajaib' itu, bila lahir akan menjadi Imam Mahdi.


Setelah tidak terdengar kasus Istana pada masa Presiden BJ Habibie, yang memang pendek masa jabatannya, pada masa Presiden Abdurahman Wahid (Gus Dur) kembali terjadi penipuan yang mengaitkan Istana Negara. Pelakunya adalah Soewondo, yang biasa keluar masuk Istana karena jadi tukang pijat Gus Dur.


Orang yang dianggap 'dekat' dengan orang nomor satu di Indonesia itu berhasil menipu Yayasan Dana Kesejateraan Karyawan (Yanatera) Badan Urusan Logistik (BULOG) dan dituduh membobol uang yayasan hingga Rp 35 miliar. Soewondo sempat kabur, namun kemudian ditangkap polisi di kawasan Puncak, Jawa Barat. Pengadilan memvonisnya 3,5 tahun penjara.


Kasus tersebut sempat menyita perhatian khalayak dan menjadi senjata pamungkas bagi lawan-lawan politik Gus Dur, yang membantah telah memerintahkan pencarian dana itu. Namun, akhirnya Gus Dur lengser juga dari jabatannya gara-gara kasus yang dikenal dengan istilah Buloggate tersebut.


Pada masa Presiden Megawati, skandal 'penipuan' kembali terjadi. Kali ini yang diperdaya adalah Menteri Agama Kiai Said Agil Almunawar. Menteri yang bergelar profesor dan hafidz Alquran ini memimpin penggalian situs di Batutulis Bogor yang diyakini memendam harta karun yang nilainya dapat untuk membayar seluruh utang negara.


Menurut Said Agil, Presiden Megawati mengetahui rencana penggalian situs bersejarah yang konon peninggalan Kerajaan Pajajaran itu. Sayangnya, harta karun yang dicari hanya pepesan kosong. Said Agil sendiri kini masih ditahan dalam kasus tuduhan korupsi uang haji.


Moga-moga penghuni Istana yang menjadi lambang kebanggaan bangsa, negara dan rakyat Indonesia, itu tidak lagi menjadi korban penipuan.


sumber :
http://karodalnet.blogspot.com